PAGE

Selasa, 21 April 2015

Mendaki Gunung Lawu Via Candi Cetho



GUNUNG LAWU
Via Candi Cetho


Gunung Lawu, gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagian jalur pendakian ada yang masih di bagian provinsi Jawa Tengah yaitu melalui Candi Cetho dan Cemoro Kandang namun yang di bagian provinsi Jawa Timur melalui Cemoro Sewu. Pada umumnya jalur pendakian Gunung Lawu melalui jalur cemoro kandang dan cemoro sewu namun akhir” ini sudah banyak pendaki yang mendaki Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho ini.
Nah pada catatan perjalanan kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya mendaki Gunung Lawu melalui jalur Candi Cetho. Perjalanan saya mulai dari rumah teman saya Candra yang bertempat tinggal di ungaran, tepatnya pada hari jum’at tanggal 03 April 2015. Saya cuman berdua berangkatnya, namun Candra sudah membuat janji dengan temannya dari Surabaya yaitu bang Soni Jap dan bang Jacko alias Joko Harianto. Teman saya membuat janji untuk bertemu langsung di base camp Candi Cetho.
Jalur CandiCetho dapat di tempuh dengan dua transportasi darat yaitu menggunakan kendara’an pribadi seperti motor/mobil atau dengan menggunakan transportasi umum seperti bus. Kalau menggunakan kendarak’an pribadi dari Semarang – Arah Solo – bisa lewat jalur alternatif lewat Bekonang atau lewat kota – Terminal Karang Pandan – lurus aja sampai ada gapura besar bertuliskan Kawasan Wisata Sukuh Cetho – masuk lurus aja arah kemuning – ikuti plang yang mengarah ke Candi Cetho – Setelah mau masuk akan di tarik biaya untuk kendara’an bermotor Rp.1000,00 – dan langsung masuk aja parkir di area paling atas.
Jika Menggunakan Transportasi Umum Seperti Bus dari Semarang – naik bus jurusan Solo – turun terminal Tirtonadi (tarif Semarang-Solo sekitar Rp.20.000) – naik bus arah Tawang mangu – turun di terminal KarangPandan (tarif Tirtonadi-Karangpandan sekitar Rp.10.000,00 sampai Rp.15.000,00) – dari terminal Karang Pandan naik bus kecil arah Kemuning (tarif Rp.5.000,00/orang) – turun di kemuning – naik ojek dari kemuning ke argo wisata CandiCetho (tarif 15.000-20.000/orang).
Saya memilih menggunakan kendara’an pribadi sepeda motor, berangkat dari Ungaran sekitar pukul 06.00 wib pagi. Perjalanan hingga kurang lebih 2 jam kami sampai Solo, karena sebelumnya tidak tau arah kami menggunakan GPS, dan aplikasi ini langsung menunjukan jalan pintas tercepat ke arah CandiCetho dengan melalui jalur alternatif lewat Bekonang. Dari Solo sampai lah kita di daerah Karang Pandan dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.


1.1  foto di depan gapura masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho daerah KarangPandan

Kami langsung masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho ke arah Kemuning. Dari Karang Pandan ke kemuning waktu tempuh sekitar kurang lebih 50 menit. Dari kemuning langsung kita masuk ke arah Candi Cetho dengan waktu tempuh Kemuning ke Candi Cetho sekitar kurang lebih 30 menit. Sekitar pukul 10.30 wib kami sampai di Candi Cetho. Disini kami menunggu teman dari Surabaya, waktu itu cuaca masih cerah. Setelah menunggu hampir 2 jam akhirnya teman” dari Surabaya datang. Namun cuaca yang semula cerah berubah menjadi mendung petang, dan hujan lebat pun turun. Kami menunda perjalanan hingga hujan reda, sambil menunggu hujan reda bang son sama bang jack makan dulu karena perjalanan jauh dari Surabaya-CandiCetho. Sambil menunggu kedua teman saya makan, saya dan bang candra menikmati segelas kopi sambil memandangi hujan yang turun. Ternyata banyak pendaki lain juga yang memilih jalur CandiCetho, silih berganti para pendaki berdatangan. Sekian lama menunggu hujan akhirnya sedikit reda, kami pun tak menyianyiakan nya. Sekitar pukul 13.00 kami mulai perjalanan, tak lupa membayar retribusi masuk Rp.3000,00/orang. Pemandangan pertama kita disuguhi view Candi khas Bali CandiCetho.


Trek pertama masuk kawasan CandiCetho lalu melipir ke kiri ke arah Candi Kethek jalan lurus aja. Jalurnya berupa tanah, trek sedikit nanjak untuk sampai ke pos 1. Baru sebentar jalan kita diguyur rintik” hujan, namun perjalanan tetap kami lanjutkan. Sekitar satu setengah jam kita sampai ke pos1. Karena Hujan cukup lebat kami putuskan untuk berteduh di dalam pos1, ternyata sudah ada pendaki lain dari Solo. Kami langsung di persilahkan masuk dan bergabung untuk berteduh. Di sini keakraban sesama pendaki sangat terjalin, kami di tawari berbagai makanan dan di buatkan kopi. Saya dan rombongan sangat bertrimakasih untuk makanan dan kopinya. Karena tenaga sudah sedikit terkuras, kami membuka bekal lontong sate yang sudah di beli oleh bang son di bawah tadi. Kami giliran menawari bekal kami, tak banyak membuang waktu dengan lahapnya kami memakan bekal sate lontongnya hehe.




Setelah mengisi perut kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan sampai pos 3 atau kalau bisa camp di pos 5. Namun hujan semakin lebat dan tak kunjung reda, kami mengurungkan niat dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Sambil menunggu hujan kita ngobrol santae dan join kopi. Ternyata hujan yang kita tunggu tidak kunjung reda malah semakin lebat saja. Kita melihat jam, dan menunjukan pukul 17.30 hampir maghrib. Dan udara semakin dingin, cuaca pun semakin petang. Langsung kami berinisiatif untuk mendirikan tenda di depat pos1, karena kami melihat teman kami juga sudah kelelahan. Langsung saja kita segera mendirikan tenda dengan kapasitas 4 orang. Tak butuh waktu lama tendapun sudah berdiri, dengan badan sedikit agak basah kami masuk kedalam tenda dan mengganti pakain kita. Kami mulai menghangatkan diri dan kembali mengisi energi dengan cemilan yang dibawa bang son. Setelah sekitar pukul 18.30 hujan reda, dan pendaki dari Solo mengajak kita untuk melanjutkan perjalanan dan camp di pos 2. Namun kita menolak karena sudah posisi enak, dan melihat teman sudah kelelahan kami putuskan untuk bermalam di depan pos1 saja. Lalu pendaki dari Solo pun berpamitan dan melanjutkan perjalanannya sedngkan kami memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari.




Suara berisik para pendaki yang juga lewat di jalur candi cetho pun mulai melewati tenda kami satu persatu. Suara lalu lalang pendaki membangunkan saya, saya pun mulai membuka tenda dan ternyata fajar sudah menyingsing. Pemandangan pagi dari luar tenda sangat lah bagus di kiri nampak pemandangan kota dan kiri nampak seperti air terjun karena hujan semalam. Di atas kami nampak banyak pohon cemara dengan sedikit disinari matahari pagi. Puas memandang suasana pagi di sekeliling tenda saya pun mulai memasak air panas untuk membuat minuman hangat, serta membuat puding buat sarapan pagi. Saat semua sudah mulai bangun air yang dimasak pun sudah matang, kami mulai menikmati teh serta jahe hangat. Mas son mulai mengeluarkan logistiknya, dia mengeluarkan bubur dalam kemasan untuk menambah tenaga katanya. Bubur yang dibawa mas son ternyata cukup praktis, cukup di panaskan dengan air hangat saja. Rasanya juga enak, ada toping dangin nya di dalam. Selesai sarapan kita langsung packing tenda dan peralatan lain, semua peralatan kita bawa naik. Kita mulai lanjut perjalanan sekitar pukul 07.30 wib. Trek masih agak landai menuju pos 2 nya. Dari pos1 ke Pos2 membutuhkan waktu kurang lebih 1 ½ jam (satu setengah jam). 


Akhirnya setelah berjalan selama 1 ½ jam kita sampai di pos2. Pos2 di sekelilingnya agak lebar bisa di buat mendirikan beberapa tenda. Dan di dalam pos2 sendiri tempatnya sangat datar dan tertutup, bisa di buat berlindung dan tidur. Di pos2 kami bertemu lagi dengan pendaki dari Solo. Ternyata mereka mendirikan tenda di sekitar pos2. Setelah sampai di pos2 kita istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju pos3. Jarak tempuh antar pos2 sampai pos3 sama seperti pos sebelumnya kurang lebih 1 ½ - 2 jam’an. Namun trek dari pos 2 ke pos3 sudah mulai nanjak terus sehingga trek kelihatan lebih panjang dan lebih lama. Jalurnya cukup rapat, vegetasinya lebat jalur nya hampir ketutup dengan vegetasi. Namun jangan hawatir sudah banyak plang penunjuk jalan menuju puncak. Namun sedikit saran saat jalan lebih baik pada pagi hari agar jalurnya lebih kelihatan dan resikonya sedikit dibanding ngetrek pada malam hari.






Setelah sekitar kurang lebih 1 ½  jam kita sampai di pos3. Pos3 agak lebih kecil dari pos” sebelumnya namun atapnya masih bagus dan rapat, area datar nya di luar pos3 juga kecil. Tidak bisa mendirikan banyak tenda di sini. Di sini kami bertemu dengan rombongan anak UIN Jogja 3 orang, 2 cowok dan 1 cewek. Dari pos3 kami lanjut menuju pos berikutnya. Sebelumnya rombongan kami di beri kurma oleh anak” UIN, eh kita yang meminta dan mereka memberikan kurmanya hehe. Makasih loh kurmanya, enakk sekali.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan, dari pos3 menuju pos4 butuh waktu kurang lebih 1 ½ jam dengan trek naik terus serta vegetasinya lebat. Namun karena teman-teman sudah mulai lapar lagi di pertengahan pos3 ke pos4 kami memasak mie dulu buat mengisi tenaga. Kami berhenti di tempat yang datar agar bisa memasak dan istirahat dengan leluasa. Kami memasak 5 mie instan, serta membuat teh dan susu coklat untuk 4 orang.


1.9 Istirahat sebentar buat mengisi tenaga (antara pos3 ke pos4)


2.0 Pos4 (pos nya agak kecil serta sudah mulai rusak atapnya)

Setelah cukup mengisi tenaga, dan beristirahat sebentar, kita melanjutkan perjalanan kembali. Karena tenaga sudah terisi kami pun berjalan agak lebih cepat. Setelah beberapa menit kami sampai di pos4. Di pos4 lagi” kita berhenti dulu buat istirahat. Lalu perjalnan di lanjutkan lagi menuju pos5 bulak peperangan. Trek menuju pos5 masih sama nanjak terus namun ada bonus trek datar nya. View setelah pos4 pun bagus, kita melewati banyak pohon cemara. Jalan datar di kanan kiri pohon cemara, sangat bagus sekali viewnya sayang sekali saya tidak mengabadikannya. Setelah trek datar, belok ke kiri trek menanjak. Tanjakannya cukup tinggi namun sebentar kita sudah sampai di sabana pertama.
Sampailah kita di sabana pertama, di sana ternyata sudah banyak para pendaki. Kami pun bertemu dengan teman yang tadi berasal dari Madiun, teman yang jumpa pertama di base camp candi cetho serta bertemu anak” UIN lagi. Banyak para pendaki beristirhat sambil mengabadikan gambar di sabana pertama ini. Saling bercengkrama, ngobrol santai sambil memandangi pemandangan sabana pertama. Viewnya berjejer banyak pohon cemara mengelilingi sabana. Kami pun tak lupa mengabadikan momen” indah ini. Kami kembali membuka logistik kami, kami kembali membuat bubur ayam praktis dari bang son. Satu kemasan bubur buat ber-empat hehe.


2.1 Foto keluarga dulu (bang jack, bang can, saya, bang son dari kiri ke kanan)


Setelah puas berfoto, puas menikmati sabana pertama dan setelah sedikit mengisi perut kita melanjutkan perjalnan. Dari sini trek sudah datar dan full sabana, tak selang kurang lebih 20-30 menit dari sabana pertama sampailah kita ke pos5 bulak peperangan. Sabananya lebih luas dari sabana yang pertama, viewnya lebih bagus. Dan saat saya bandingkan dengan foto teman saya yang di semeru, sabananya ini mirip sekali dengan foto teman saya yang di semeru hehe luar biasa. Cuaca nya sangat cerah jadi mendukung sekali, alhamdulilah saya bisa menyaksikan view sebagus ini. Konon di sini tempat bertempurnya prabu brawijaya v sehingga di namakan bulak peperangan.
Banyak para pendaki beristirahat dan memasak di pos5 bulak peperangan ini. Namun disini logistik kami sudah habis, yang tersisa cuman susu coklat. Melihat para pendaki mengisi perut hmm jadi kepingin, namun tak sampai hati saya meminta. Kami pun hanya membuat susu coklat hangat dan langsung melanjutkan perjalanan. Sedikit masukan saat mendaki gunung lawu via candi cetho sebaiknya siapkan logistik atau makanan sebanyak banyaknya agar tidak seperti kami kehabisan logistik saat baru sampai di pos5 hehe.
Dari pos5 trek masih datar namun setelah beberapa langkah ada sedikit tanjakan mirip tanjakan cintanya semeru. Namun tanjakannya lebih pendek dari tanjakan cintanya semeru. Setelah tanjakan akan ada sabana lagi, sabana yang sangat luas lebih luas dari sabana yang sebelumnya.Dan karena kita datang saat musim hujan di depan kami ada seperti sendang (genangan air) dua buah dan di tengah”nya jalur menuju puncak. Sendang airnya bersih dan sangat jernih, benar-benar beruntung sekali kami. Kami langsung membasahi muka merasakan segarnya air ini. Seperti kolam di tengah” padang savana.


2.3 Pos5 Bulak Peperangan







Trek setelah pos5 bulak peperangan tadi kita melewati trek sabana yang luas ber liku-liku. Dari Pos5 sampai Hargo Dalem atau warung mbokYem dapat di tempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam. Di depan kita akan melewati sendang kidang, disini dapat di buat tempat camp area, karena areanya datar dan di lincungi oleh pohon” cemara yang tumbuh di sekitar area sendang kidang. Saat di tengah perjalanan, teman-teman mulai kelaparan dan kehabisan tenaga. Kami memutuskan untuk berhenti sebentar. Karena lapar dan logistik yang tersisa cuman gula pasir sama promag satu tablet. Terpaksa kita join promag dan gula pasirnya hehe miris tapi kebersama’annya itu yang sampai saat ini saya ingat dan saya rindukan.
Setelah sendang kidang 30 menit akan sampai di sendang macan, di sendang macan ada sumber airnya yang dapat kita gunakan untuk menambah perbekalan air kita. Setelah dari sendang macan trek agak nanjak sebentar lalu mulai datar lagi dan sampailah kita di pasar dieng. Di area pasar dieng treknya nya semua batu dan jalanannya agak membingungkan di sini. Butuh waktu kurang lebih 30 menit dari sendang macan sampai ke pasar dieng. Nama pos nya agak sedikit nyeremin, pasar dieng yang artinya dalam bahasa jawa yaitu pasar setan. Namun di pasar dieng ini saya dan teman-teman bertemu pendaki yang baik hati rombongan dari jakarta yang memberi kita biskuitnya serta coki-coki coklat. Makasih gaes, jasamu tak akan saya lupakan hehe.
Dari pasar dieng sampai HargoDalem sangatlah dekat, cukup membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit sampai di warung MbokYem. Setelah habis area pasar dieng kita lewati mulailah trek rerumputan dan stelah beberapa langkah sampailah kita di rumah botol. Yah rumah kecil yang semua bahannya terbuat dari botol, makanya dinamakan rumah botol. Rumah botol ini yang menghubungkan antara trek candi cetho ke HargoDalem. Langsung tak menyianyiakan waktu karena sudah dari tadi kita semua menahan lapar, kita langsung menuju warung MbokYem untuk mengisi perut kita yang sudah sedari tadi meronta-ronta hehe. Kita segera memesan nasi pecel 4 porsi dan minum teh hangat khas Lawu. Tak butuh waktu lama makanan yang kita pesan telah tiba dan kita langsung melahapnya, udah kayak orang yang gak makan seminggu aja hehe.



2.9 Pasar Dieng (area di sekitar sini berupa trek tanah dan banyak bebatuannya)

Saat kita tiba di warung MbokYem waktu menunjukan pukul 16.30 wib. Saat itu warung masih lah lenggang belum banyak pendaki yang datang. Setelah kita selesai mengisi perut, hari sudah mulai gelap dan biasanya kalau sudah malam para pendaki akan semakin banyak yang berdatangan. Kami mengambil inisiatif untuk mendirikan tenda di area hargo dalem, kita langsung mendirikan tenda. Setelah beberapa saat tendapun sudah berdiri dan kami mulai beristirahat. Tak lama setelah tenda kita berdiri, para pendaki pun mulai ramai berdatangan di Hargo dalem. Untunglah kita sudah  mendapat tempat camp yang nyaman sesuai keinginan kita. Malam itu bulannya sangatlah terang, indah sekali. Ternyata malam dihari kita nge camp ini sedan terjadi bulan purnama, sungguh sangatlah beruntung kita bisa menyaksikannya. Namun kita tidak bisa berlama-lama di luar tenda karena suhu udara di luar tenda sangat lah dingin ditambah dengan angin malam yang cukup kencang menambah udaranya semakin dingin saja. Malam hari kita habiskan dengan ngobrol, bercanda dan tertawa bersama sambil menikmati secangkir kopi hangat. Tak terasa malam pun semakin larut, acara kita lanjutkan untuk beristirahat.
Malam pun telah berlalu, di luar tenda sudah ramai suara para pendaki. Ternyata sudah ramai sekali berjejer para pendaki menikmati sun rise. Kami pun tak mau melewatkan sun rise nya, kami cukup menikmatinya dari deket tenda kita karena disini kita sudah bisa menikmati sun rise nya. Cuaca yang cerah ini mendukung banget, jadi kita bisa melihat proses terbitnya matahari secara jelas.

catatanperjalananyanuararifw.blogspot.com
3.0 Sun Rise dari deket tenda kita


3.1 Tempat kita mendirikan tenda

Setelah kita menyasikan proses terbitnya matahari kita mampir ke warung mbok yem dulu buat srapan. Di warung sambil makan kita ngobrol santai dan bercanda dengan mbok yem dan karyawannya yang merupakan keluarganya sendiri. Suasana hangat tercipta di dalam warung, keramahan mbok yem dan keluarga, candaannya membuat pagi ini penuh ceria. Setelah selesai sarapan kita langsung packing dan membereskan tenda untuk turun.
Karena teman kami ada kegiatan esok harinya, dan kalau kita turun lewat candi cetho lagi waktunya tidak keburu. Kemudian kita putuskan buat turun lewat CemoroSewu yang notabene trek nya lebih pendek sehingga teman kami bisa sampai rumah lebih cepat dan bisa melanjutkan kegiatannya esok hari. Packing selesai dan kita langsung melanjutkan perjalanan turun. Buat catatan dan masukan untuk kawan-kawan semua, tolong banget di jaga kebersihan nya bila teman-teman semua ingin melintasi jalur candi cetho ini. Jangan sampai jalur candi cetho ini berakhir seperti jalur cemoro sewu dan cemoro kandang ya gays. Apa yang kalian bawa saat datang, harus kalian bawa juga saat pulang ya trimakasih. Sekian catatan perjalanan saya di gunung lawu via candi cetho ini.


catatanperjalananyanuararifw.blogspot.com

3.2 Saat perjalanan turun kita disuguhi oleh pemandangan samudra awan :D 

#CatatanPerjalanan #GunungLawu #Lawu #ViaCandiCetho #CandiCetho #EksploreIndonesia #LetsgoAdventure

Tidak ada komentar:

Posting Komentar